JT - Sebuah studi Universitas McGill di Montreal, Kanada, menjelaskan mengapa kekurangan vitamin D di awal kehidupan dikaitkan dengan risiko penyakit autoimun yang lebih tinggi.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances itu menemukan bahwa selama masa kanak-kanak, kelenjar timus membantu melatih sel-sel imun untuk membedakan antara jaringan tubuh sendiri dan penyerang yang berbahaya. Kekurangan vitamin D pada tahap kehidupan tersebut menyebabkan timus (kelenjar kekebalan) menua lebih cepat.
Baca juga : Film Animasi China Ne Zha 2 Disambut Antusias di Jakarta, Tayang 21 Maret
"Timus yang menua menyebabkan sistem imun yang 'bocor'," kata penulis utama John White, seorang Profesor dan Ketua Departemen Fisiologi McGill, dilansir dari Medical Xpress, Senin (21/10).
Profesor White, lebih lanjut memaparkan,"Ini berarti timus menjadi kurang efektif dalam menyaring sel-sel imun yang secara keliru dapat menyerang jaringan sehat, sehingga meningkatkan risiko penyakit autoimun seperti diabetes tipe 1".
Dia mencatat, para peneliti telah mengetahui selama bertahun-tahun bahwa vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium untuk tulang yang kuat, dan bahwa penelitian yang lebih baru telah menemukan peran pentingnya dalam mengatur sistem kekebalan tubuh.
"Temuan kami memberikan kejelasan baru pada hubungan ini dan dapat mengarah pada strategi baru untuk mencegah penyakit autoimun," katanya.
Baca juga : Produk Busana Asal Indonesia Tembus Pasar Singapura
Meskipun penelitian dilakukan pada tikus, temuan tersebut relevan dengan kesehatan manusia karena timus berfungsi serupa pada kedua spesies, White menambahkan.
Temuan itu sekaligus menyoroti pentingnya asupan vitamin D yang cukup, terutama untuk anak-anak.